KETIKA TUHAN TERASA JAUH

Ketika Tuhan Jauh 2 (1)

Renungan Harian, 27 April 2021

Dan aku hendak menanti-nantikan TUHAN yang menyembunyikan
wajah-Nya terhadap kaum keturunan Yakub; aku hendak
mengharapkan Dia

Yesaya 8:17

TUHAN itu nyata, tidak peduli bagaimana perasaan kita. Mudah bagi kita untuk menyembah TUHAN ketika dalam keadaan baik, tetapi keadaan tidak selalu menyenangkan bukan?

Tingkat penyembahan yang terdalam adalah memuji TUHAN meski menderita, mengucap syukur selagi dalam pencobaan, berharap kepada-Nya ketika dicobai, berserah diri sementara menderita dan mengasihi TUHAN ketika terasa jauh.

Daud adalah orang yang berkenan di hati TUHAN, hubungannya dengan TUHAN sangat dekat.

Namun dia jugalah yang sering merasa TUHAN terasa jauh dan meninggalkannya, misalnya dalam Mazmur 10:1 dia berkata, Mengapa Engkau berdiri jauh-jauh, ya TUHAN, dan menyembunyikan diri-Mu dalam waktu-waktu kesesakan?

Meskipun ada perasaan demikian, TUHAN sebenarnya tidak meninggalkannya dan juga tidak meninggalkan kita.

Janji TUHAN tetap, Aku sekali-kali akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.

Pengujian dan pendewasaan persahabatan dengan TUHAN terjadi ketika TUHAN terasa jauh.

Hal tersebut kadang bisa terjadi berkali-kali dalam kehidupan kita. Doa-doa kita terkadang membentur langit-langit.

Ayub pernah mengalami ini dan Dia berkata,

sesungguhnya, kalau aku berjalan ke timur, Ia tidak di sana; atau ke barat, tidak kudapati Dia; di utara kucari Dia, Ia tidak tampak, aku berpaling ke selatan, aku tidak melihat Dia. Karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas. (ayub 23:8-10)

Banyak orang Kristen yang menyembah TUHAN hanya untuk mencari pengalaman dan bukan mencari TUHAN.

Mereka mencari perasaan dan ketika mendapatkannya mereka merasa telah menyembah TUHAN, Namun yang harus kita ketahui, kemahahadiran TUHAN dan perwujudan kehadiran-Nya adalah hal yang berbeda.

TUHAN selalu, meski kita tidak menyadari-Nya dan kehadiran-Nya terlalu dahsyat untuk dapat diukur dengan emosi kita.

TUHAN ingin agar kita mempercayai kehadiran-Nya daripada merasakan-Nya, Beliau ingin kita memiliki Iman.

(Baca Juga: Mengembangkan Persahabatan dengan TUHAN)

Seseorang yang mengakui keputusasaan kepada TUHAN bisa merupakan
pernyataan iman.

Daud pernah menuliskan itu, Aku percaya, maka aku berkata “Aku sangat tertindas”.

Inilah keterbukaan yang dalam. Daud percaya kepada TUHAN bahwa TUHAN akan mendengar doanya dan tetap percaya bahwa TUHAN tetap mengasihinya.

Karakter TUHAN tidak pernah berubah, bagaimanapun keadaan dan perasaan kita.

TUHAN itu baik, kasih, peduli dan memiliki rencana yang baik bagi kita. Jangan pernah meragukan di dalam gelap apa yang TUHAN katakan kepada kita di dalam terang.

TUHAN memegang kendali dan akan menyelamatkan kita. Saat kita merasakan kekeringan rohani, maka kita harus dengan sabar bersandar pada janji-janji TUHAN.

Kesulitan kita seharusnya membuat kita tetap setia kepada firman TUHAN. Ayub mencontohkan ini, ketika menderita imannya tetap kuat, Lihatlah, Ia
hendak membunuh aku, tak ada harapan bagiku, namun aku hendak
membela perilakuku di hadapan-Nya.
(Ayub 13:15).

Pujian kepada TUHAN harus tetap kita naikkan dengan mengingat apa yang telah TUHAN kerjakan bagi kita, yaitu pengorbanan Yesus Kristus yang telah menderita, dipukul, dicambuk, ditelanjangi dan diperlakukan
seperti binatang.

Yesus Kristus melakukan itu untuk menanggung dosa serta kesalahan kita. Yesus Kristus memberikan segalanya supaya kita bisa hidup selamanya.

Sumber Gambar:

  • https://bit.ly/3eAuipc
  • https://bit.ly/3epOvOs

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *